Sabtu, 07 Maret 2009

TIPS BERTANAM CABE BESAR

SYARAT PERTUMBUHAN

A. TANAH

1. Semua jenis tanah, mulai andosol yang berwarna gelap ( kaya bahan organik ), latosol, regosol dan grumosol dapat ditanami cabe hibrida . Bertanam cabe hibrida lebih menekankan teknologi budidaya.

2. pH tanah merupakan faktor penting dalam pelaksanaan teknik budidaya. pH tanah
berpengaruh terhadap mudah tidaknya unsur-unsur hara yang diserap oleh tanaman. pH tanah optimal untuk pertumbuhan tanaman adalah 5,8 - 6,8. Pada umumnya tanah di pulau Jawa ber pH asam, rata - rata ber pH 5,4. Untuk menetralkan pH tanah
dapat ditambahkan kapur pertanian, misal:
Dolomit dengan dosis 2 - 3,6 ton / Ha. ( atau 200 - 360 g / m2 ). Al, Mn dan Fe banyak dikandung pada tanah yang ber pH asam. Pada tanah yang ber pH asam unsur hara tanaman, terutama P, K,S, Mg dan Mo tidak dapat diserap tanaman karena terikat oleh Al, Mn dan Fe. Pada tanah pH netral, sebagian besar unsur hara mudah larut dalam air sehingga mudah diserap tanaman.
pH tanah berfungsi mendeteksi adanya unsur-unsur beracun. Ion-ion Al, Mn dan Fe pada tanah ber pH asam dapat meracuni tanaman. Selain itu unsur mikro Zn, Cu dan Co pada tanah ber pH asam, bila ketersediaannya terlalu banyak berakibat meracuni tanaman. Demikian juga pada tanah ber pH basa, Mo dalam jumlah banyak berakibat meracuni tanaman. pH tanah mempengaruhi perkembangan mikro organisme. Lodoh / Lomot / Cendawan rebah kecambah (Rhizoctonia sp dan Pythium sp ) serta layu Fusarium, berkembang baik pada tanah-tanah asam. Cendawan yang hidup pada pH tanah diatas 5,5 akan berkompetisi dengan bakteri.

B. AIR

Air sangat penting dalam keberhasilan bertanam cabe hibrida. Air berfungsi sebagai: pelarut unsur hara didalam tanah, pengangkut unsur hara ke organ tanaman, dalam proses fotosintesa dan respirasi. Kualitas air harus benar-benar diperhatikan.

C. IKLIM

1. Angin kencang sangat merugikan tanaman cabe hibrida, selain cabang mudah patah, bunga yang saatnya diserbuki menjadi gagal diserbuki dan akhirnya rontok.

2. Curah hujan yang tinggi berakibat bunga cabe rontok dan bunga
gagal diserbuki oleh lebah. Air hujan yang menggenang diselokan mengurangi porositas tanah sehingga mengganggu pernapasan akar tanaman dan meningkatkan kelembaban di sekitar tanaman.
3. Cahaya matahari penting untuk fotosintesa, pembentukan bunga serta pembentukan dan pemasakan buah cabe. Untuk pembungaan yang normal, cabe hibrida membutuhkan intensitas cahaya cukup banyak, yaitu antara 10-12 jam penyinaran matahari.

4. Suhu untuk perkecambahan benih cabe hibrida antara 25-30 0C. Suhu optimal untuk pertumbuhan berkisar 24-28 0C. Suhu yang terlalu dingin menyebabkan pembentukan bunga kurang sempurna dan pemasakan buah lebih lama. Sebaliknya lokasi penanaman cabe hibrida di bawah 1.400 m dpl, suhu tinggi, kering dan pengairan kurang menyebabkan penguapan / transpirasi tinggi sehingga daun dan buah banyak yang rontok serta buah yang terbentuk tidak sempurna.

5. Kelembaban relatif yang optimal untuk cabe hibrida adalah 80%. Suhu dan kelembaban yang tinggi akan meningkatkan intensitas serangan bakteri Pseudomonas solanacearum penyebab layu akar serta merangsang perkembangbiakan cendawan.

D.RUMAH PEMBIBITAN dan MEDIA SEMAI

1. Rumah Pembibitan

Lahan untuk rumah pembibitan < 1% luas lahan. ( Untuk penanaman 1Ha diperlukan rumah pembibitan < 100 m ).
Ukuran rumah pembibitan yang ideal adalah panjang 10 - 12 m, lebar 1 -1,2 m dan tinggi 0,75 m.

2. Media Semai Tanah terdiri dari pupuk kandang, NPK dan fungisida Kocide 60 WDG ( untuk soil treatment ). Dengan perbandingan 2 : 1
( tanah: pupuk kandang) sedangkan tiap 1 m media semai ditaburi 500 g NPK dan 2 g Kocide 60 WDG. Dianjurkan disiram Kompos Cair BIO LEMI dosis 1 - 2 cc/ lt untuk mempertebal daun dan menguatkan batang bibit cabe sehingga saat pindah tanam tidak mudah layu.

E. PERSIAPAN LAHAN.

1.Pembuatan Bedengan
Kasar. Panjang: 10 - 12 m; lebar: 1,10 - 1,20 m; tinggi: 0,30 - 0,40 m
( pada musim kemarau ) atau 0,50 m
( penghujan ), lebar selokan: 0,50 - 0,55 m
( kemarau ) atau 0,60 - 0,70 m ( penghujan ).

2. Pengapuran pada bedengan dengan dosis 1,5 - 3,0 ton / Ha ( atau 150 - 300 g / m ).

3. Sterilisasi tanah ( soil treatment), menggunakan KOCIDE 60 WDG dengan dosis 20 Kg/Ha (atau 2 g/m ).

4. Pemupukan
a. Pupuk Kandang.
Ciri - ciri pupuk kandang yang sudah matang adalah tidak panas, tidak mengeluarkan bau dan wujud fisiknya menyerupai tanah ( agak kehitaman ).
Catatan:
Pupuk kandang yang belum matang dapat disempurnakan ( di matangkan ) dengan BIO ACTIVATOR dengan dosis 0,5 - 1 lt untuk tiap 1 ton pupuk kandang atau kompos.

b. Pupuk Buatan.

Urea 200 Kg/Ha, SP36 650 Kg/Ha, KCl 400 Kg/Ha, ZA 600 Kg/Ha dan FITOMIC ( Ca = 10 %;B = 2 %; Sukrosa = 10 % ) 10 lt/Ha.
(5 X penyemprotan mulai berbunga).

c. Pupuk Tambahan.

Pupuk daun , MAMIGRO N ( 25-5-5 ) dengan dosis 2 g / lt pada tanaman umur 14 dan 21 hari setelah tanam ( hst ); MAMIGRO P ( 12-27-23 ) dengan dosis 2 g/lt mulai umur 35 hstdengan interval satu minggu.

F. PEMASANGAN AJIR
Ajir sebaiknya segera dipasang setelah pindah tanam, agar tidak merusak perakaran tanaman.Setelah tanaman berumur 30 hst, antara ajir yang satu dengan lainnya yang berada dalam satu bedengan harus dibentangkan tali untuk tempat bersandarnya percabangan. Adapun letak tali pada ajir adalah sejajar dengan letak cabang nomor dua dari tanaman. Pemasangan tali sangat berguna untuk meletakkan percabangan tanaman, sebab pada percabangan ini biasanya terdapat buah yang sangat banyak yang apabila tanpa diberi penguat atau penyangga seringkali terjadi cabang patah.

G PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT UTAMA

a. Kutu Thrips (Thrips parvispinus Karny)

Hama ini menghisap cairan bunga dan daun muda sehingga menimbulkan gugurnya bunga dan daun mudah menjadi keriting. Thrips berkembang biak secara takkawin (parthenogenesis) sehingga populasinya berkembang sangat cepat, merupakan vektor berbagai macam penyakit virus.
Pengendalian: untuk serangan ringan dapat menggunakan Curacron, tetapi untuk serangan yang berat dianjurkan memakai Confidor atau Oncol sesuai dosis yang dianjuran.

b. Lalat Buah ( Dacus dorsalis Hend )

Lalat betina menusuk buah cabe dengan alat peletak telor kedalam daging buah cabe. Telur menetas dan menjadi belatung / larva lalat buah akan keluar atau masuk kedalam tanah untuk berubah menjadi pupa dan seterusnya menjadi lalat buah muda. Pada serangan yang parah, buah cabai busuk dan rontok.
Pengendalian:
Pemasangan perangkap (sex pheromone) dan penyemprotan dengan Regent 50 SC, konsentrasi 1cc / lt.
c. Ulat Buah / Ulat Bor (Heliocoverpa spp. HSN).
Ulat menyerang cabe dengan cara mengebor buahsambil memakannya.
Pengendalian:
Decis 2,5 EC konsentrasi 1,5 ml / lt atau Regent 50 SC konsentrasi 1 ml / lt.

d. Kutu Persik / Aphid Hijau (Myzus persicae. Sulz).

Aphid menghisap cairan daun muda dan bagian tanaman lain yang masih muda. Hama ini mengeluarkan cairan manis yang akan mengundang cendawan jelaga. Pada serangan berat, daun menguning/klorosis, menggulung dan keriting yang akhirnya gugur. Hama ini tidak kawin dan telur menetas di perut induknya. Aphid sebagai penular penyakit virus, antara lain Tobacco Mozaic Virus ( TMV ).
Pengendalian:
Disemprot dengan Confidor atau Oncol.

e. Tungau / Mites
( Polyphago tarso nemus latus dan
Tetranychus Cinna barinus ).
Gejalanya serangan ditandai dengan warna kecoklatan pada daun. Umumnya tungau bersembunyi dibalik daun. Daun yang terserang menjadi terpelintir, menebal, dan ujung tanaman mati. Pada permukaan bawah daun terdapat benang-benang putih halus.
Pengendalian :
Tanaman disemprot dengan Curacron atau campuran Nissorun dan Omite atau Agrimec.

2. Penyakit-Penyakit Utama.

a. Rebah Semai/ Lodoh/Lomot (Damping Off )
Disebabkan oleh cendawan Pythium dedarianum Hesse dan Rhizoctonia solani Kuhn. Tergolong pathogen tular tanah.
Pengendalian:
Sterilisasi tanah ( soil treatment ) dengan Kocide 60 WDG 2 g/m. Dengan seed treatment menggunakan Saromyl 35SD.Penyemprotan fungisida sistemik dan kontak yaitu: Previcur N dan Kocide 77WPdengan dosis 0,5 - 1.0 g/lt pada persemaian umur 14 hari.
b. Layu Fusarium
(Fusarium Oxysporium S. sp.)
Gejala serangan ditandai pucatnya tulang daun atas, tangkai menunduk. Bila pangkal batang dipotong terlihat cincin coklat kehitaman yang busuk basah.
Pengendalian:
Pengapuran lahan sebelum penanaman bila pH tanah asam, penyemprotan fungisida sistemik dan kontak yaitu Derosal 60 WP, Score 250 EC, Kocide 77 WP dll. Tanaman yang terkena serangan berat dicabut, tanah jangan tercecer, pada lubang ditaburi kapur secukupnya. Untuk pencegahan dapat dilakukan dengan penyiraman Kocide 77 WP konsentrasi 5 g /lt dengan volume siram 250 - 300 cc / tanaman.

c. Busuk Phytophthora ( Phytophtora capsici leonian ).
Patogen tular tanah dapat terbawa benih, menyerang pada setiap fase pertumbuhan dan setiap bagian tanaman. Daun yang terserang terdapat bercak, tepi ujungnya seperti tersiram air panas. Buah yang terserang berwarna coklat basah, busuk dan gugur.
Pengendalian:
Bagian tanaman yang terserang dipotong, dioles fungisida tembaga ( Kocide 77 WP dosis 5 -10 g / lt ) dan fungisida sistemik ( Topsin, Ridomil, Anvil, dll ). Sanitasi lingkungan, memotong bagian tanaman yang terserang kemudian dibakar atau dibenamkan dalam tanah.

d. Busuk Kuncup Teklik
Menyerang bunga, tangkai bunga, pucuk tanaman dan ranting tanaman. Penyebabnya cendawan Choanephora Cucurbitarum Beret Rav. Thaxt.
Pengendalian:
Sterilisasi tanah dengan Kocide 60 WDG 2 g/lt. Penyemprotan Dithane M-45 atau Kocide 77 WP 2 g/lt.

e. Antraknose / Pathek.
Antraknose dapat terbawa, tumbuh dan bertahan dalam biji selama 9 bulan. Pada suhu dan kelembaban tinggi ( 95 %; 320 C ), penyakit ini berkembang pesat. Penyebabnya: Colletotrichum capsici (Syd) dan Gloesporium piperantum. Ell. Cendawan C. Capsici menginfeksi dengan membentuk bercak coklat kehitaman kemudian menjadi busuk lunak. Pada bagian tengah bercak terlihat kumpulan titik - titik hitam koloni cendawan.
Cendawan C. Piperatum menyerang tanaman cabai mulai buah masih berwarna hijau dan menyebabkan mati ujung. Buah yang terserang terdapat bintik - bintik kecil berwarna hitam dan berlekuk. Bintik - bintik ini pada tepi berwarna kuning, selanjutnya membesar dan memanjang. Pada kondisi yang lembab cendawan memiliki lingkaran memusat (konsentris) berwarna merah jambu.
Pengendalian:
Menanam benih cabai bebas pathogen, yaitu rendam benih dengan air panas 550 C selama 30 menit ( seed treatment dengan saromyl 35 SD). Semua cabai yang terserang pathek dipanen tiap hari dan dipisahkan dengan cabai sehat, kemudian dibakar. Penyemprotan : Derosal 60 WP yang dicampur dengan Kocide 77 WP 2 - 3 g /lt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar